Salt Nicotine, Antara Kebutuhan dan Style [Bag. 2]

Sumber: http://www.thecut.com

Pada bagian awal, kita telah membagi pengguna Salt Nic dalam 2 kategori besar. Jika belum baca silahkan baca Bag. 1

Mari kita lihat pernyataan yang saya kutip dari www.juul.com, si pemilik lisensi.

1. JUUL WAS DESIGNED WITH SMOKERS IN MIND. (Memang di websitenya ditulis dengan huruf besar semua).

…JUUL… allow you to experience freedom from the mess of cigarette ash and odor. By accommodating cigarette-like nicotine levels, JUUL provides satisfaction to meet the standards of smokers looking to switch from smoking cigarettes.

2. These alternatives contain nicotine, which has not been shown to cause cancer but can create dependency. We believe that these alternatives are not appropriate for people who do not already smoke.

Cukup dari dua pernyataan di atas, bisa kita simpulkan:

A. Salt Nic “Membantu” untuk berhenti merokok.

B. Karena kadar nikotin yang tinggi, kita malah memberi kesempatan tubuh kita untuk menjadi lebih “haus” akan kebutuhan nikotin.

So, jika kita sudah nyaman dengan Freebase dan asupan nikotin selama ini, rasanya kita belum/tidak perlu menambah kadar nikotin lagi.

Yang ditakutkan adalah, semakin besar asupan nikotin yang kita serap, semakin sulit kita mengendalikannya.

Parahnya, bukan tidak mungkin suatu saat pengguna vaping kembali ke rokok konvensional.

Agar tidak bingung, untuk menentukan butuh atau tidaknya menggunakan Salt Nic, bisa kita simpulkan seperti ini:

1. Coba untuk berhenti merokok tanpa alat pengganti. Karena ini jauh lebih baik.

2. Jika gagal/sering gagal, alternatif termudah dan aman adalah vape. Mulailah dengan liquid freebase dengan nikotin rendah 3mg atau mungkin 6mg.

3. Jika sudah merasa cukup dan mampu Vaping tanpa rokok, maka cukupkan sampai step nomor 2. Jika tidak…

4. Mungkin saatnya untuk beralih ke Salt Nic. Mulai juga dengan nikotin terendah. Jika merasa sudah merasa tercukupi, jangan terus pengen naik kelas nikotinnya.

Ingat, kita ingin berhenti merokok, bukan ingin menambah kadar nikotin di tubuh.

Jujur saja, sebenarnya toh bukan jaminan dengan Vaping, smoker bisa bener-bener quit smoking.

Saya menemukan 2 kasus yang berbeda, yang pertama, dia berhenti merokok tapi menghabiskan 30ml Salt Nic 50mg dalam 3-4 hari.

Kasus yang kedua, menggunakan 50mg Salt Nic + tetep merokok.

Tapi yang terjadi saat ini cenderung terbalik. Bisa dibilang banyak yang menggunakan salt nic karena trend.

Jadi bukan digunakan karena memang kebutuhan tapi lebih ke arah trend atau style.

Di sini saya bukan mengajak berdebat masalah personal choice, tapi lebih ke arah edukasi.

Harapannya adalah agar mereka yang ingin beralih ke vaping, dapat menentukan pilihannya, sehingga dapat membantu mereka untuk berhenti dari rokok.

Semua memang pada akhirnya kembali ke pribadi masing-masing. Selama kita menggunakan vape untuk stop rokok, itu merupakan suatu keputusan positif.

Vape adalah alat “bantu” saja dan semua juga tergantung pada niat dan komitmen kita untuk berhenti merokok.

Nicotine-salt

One thought on “Salt Nicotine, Antara Kebutuhan dan Style [Bag. 2]”

Tinggalkan Balasan