MTL (Mouth to Lung) Style, Apa sih enaknya? [Bag. 1]

MTL-gif
Sumber : blog.vapeclub.co.uk

Sebelum kita membahas lebih tentang MTL, ada baiknya kita mengetahui apa sih MTL alias Mouth To Lung.

Sebenernya banyak sekali penjelasan tentang MTL yang bisa kita dapatkan dari internet, entah itu berupa artikel dalam website atau pun pada media-media sosial.

Di sini saya hanya merangkum menurut versi saya yang ga akan jauh beda dari yang sudah pernah ada.
Istilah Mouth to Lung kalau kita artikan per kata, Mouth: Mulut, to: ke dan Lung: Paru-paru. Kalau digabungkan bisa dipahami menghisap uap (vapor) ke mulut lalu ke paru-paru.

Tekniknya persis ketika merokok, tidak langsung masuk ke paru-paru tapi transit dulu di mulut kita kemudian kita hisap. Saya pikir sampai sini sudah cukup jelas ya… Kalau belum, jangan lanjut baca, latihan dulu aja depan kaca hehehehe..

Seharusnya teknik MTL yang saya jelaskan di atas bukan hal baru bagi para perokok. Rokok juga menggunakan teknik MTL….

Lanjut…

Seorang perokok yang ingin Quit Smoking dengan “bantuan” vapor, akan mendapatkan pengalaman atau lebih pas dikatakan sensasi yang sama dengan teknik MTL. Karena sensasi yang didapat sangat hampir mendekati sensasi merokok.

Hanya saja, kali ini bukan hanya rasa tembakau tapi lebih bervariasi. Sensasi lembut sedikit menggelitik di tenggorokan yang didapatkan dari rokok akan juga dirasakan juga oleh penikmat MTL.

Terus kalau yang asap gede-gede itu gimana? Itu namanya Direct Lung, alias uap langsung dihisap menuju paru-paru langsung. Buat perokok yang langsung menggunakan metode seperti ini akan merasa tidak nyaman karena sensasi yang sedikit kasar bahkan cenderung kasar jika kita menggunakan liquid yang bernikotin tinggi.

Beda dengan Direct Lung, yang umumnya menggunakan cloud chasser attomizer, perokok yang memulai shifting ke MTL akan mendapatkan rasa yang lebih nikmat. Kok bisa? Katanya kalau MTL mengedepankan asupan nikotin ketimbang flavor. Jawabannya iya dan tidak.

Pada cloud chasser attomizer spt RTA/RDTA/RDA non MTL, memang mungkin rasa lebih tebal, lebih pulen dan lain-lain. Tapi rasa itu tidak dapat “memuaskan” kita. Hanya sesaat. Lebih-lebih rata-rata nikotin yang digunakan adalah 3 dan 6mg.

Rasa sesaat dan asupan nikotin yang kurang itu lah yang akhirnya yang mebuat orang masih kembali ke cinta lama alias rokok.

Tapi jika MTL attomizer, kita mendapatkan sensasi yang bisa dibilang sama dengan cara kita merokok, asupan nikotin yang cukup, biasanya di atas 6mg dan rasa yang lebih mantap.

Biar ga bingung, biar saya analogikan secangkir kopi aja lah… Secangkir kopi kental yang menggoda, cara mana yang lebih mantap untuk dinikmati, diminum seperti kita minum air, atau kita sruput pelan-pelan? Kalau kita minum seperti minum air biasa, rasa mungkin lebih pekat, tapi apa sensasi yang kita dapat? Yang pasti sesaat.

Beda kalau kita nikmati pelan-pelan. Jauh lebih nikmat, rasa bertahan lebih lama di lidah sampai tetes terakhir.

So, karena gaya MTL adalah hisap dan “transit” di mulut, indra perasa kita atau lidah dapat merasakan flavor yang disuguhkan oleh liquid. Lebih dari itu, kita akan tercukupi asupan nikotin yang kita butuhkan karena sekali lagi, nikotin untuk MTL umumnya di atas 6mg.

Setuju ya… Lagi, sebelum lanjut baca, coba rasakan dulu … Bag. 2

One thought on “MTL (Mouth to Lung) Style, Apa sih enaknya? [Bag. 1]”

Tinggalkan Balasan