Vapefly Jester, A Rebuildable Dripper Pod?

Semenjak maraknya All In One (AIO) device, konsumen pun diberikan ragam pilihan mulai dari model, ukuran sampai sistem yang digunakan oleh device itu sendiri.

Vapefly, merilis Pod/AIO device pertamanya dan mengklaim sebagai the First Rebuildable Dripping Pod System, dengan menggunakan RBA Cartridge.

AIO pertama yang menggunakan sistem RBA Coil Head seperti banyak diketahui adalah Smoant Pasito. Tapi oke lah kita tidak akan berdebat tentang hal itu.

Spesifikasi dan Fitur

  • Dimensi: 91x33x18.2mm
  • Kapasitas battery: 1000mAh
  • Kapasitas pod: 2ml
  • Warna: Black, Gorilla, Skull, Jester, Joker, Zombie dan Silver
  • 0.5Ω Mesh coil pre installed
  • RBA Pod
  • 3 Output Modes: 3.3/3.8/4.8V
  • Child Lock

Desain

Saya pribadi kurang menyukai desain Jester, walaupun ini sifatnya sangat subyektif.

Bagian mouthpiece/driptip kurang nyaman karena desain yang cukup besar dan tebal.

Jester dibekali 2 jenis pod, RBA Pod dan pod dengan replaceable coil head bawaan pabrik.

Coil bawaan menggunakan resistensi 0.5ohm mesh coil dan memiliki pengaturan airflow. Sedangkan untuk RBA Cartridge, tidak ada pengaturan airflow.

Kedua cartridge menggunakan sistem yang sama untuk pengisian liquid, yaitu top-fill method atau dari bagian atas.

Jester tidak menggunakan auto-draw activation. Kita harus tekan tombol ketika menghisap.

Tombol pada baterai berfungsi sebagai on/off (5x click), fire button dan merubah volt setting (3x click).
Ungu: 3.3volt, biru: 3.8 volt dan hijau: 4.8 volt.

Post deck untuk RBA Cartridge dirancang cukup lega. Rekomendasi diameter adalah 2mm – 2.5mm.

Setting coil sangat mudah sekali jika dibandingkan dengan Smoant Pasito.

Tapi bedanya dengan Pasito, kita tidak bisa melihat nilai ohm pada coil yang kita buat. Walau bagi sebagian orang ini ga penting, tapi dapat mengurangi penilaian.

Jester RBA direkomendasikan menggunakan resistensi coil 0.5-3.0 ohm.

Desain RBAnya seperti RDTA, dengan kata lain, pastikan kapas sedikit agak panjang, tapi tidak perlu sampe menyentuh dasar.

Tutup/Cap RBA selain berfungsi sebagai driptip, juga sebagai chamber dan chimney.

Warna cartridge cukup gelap terutama jika tertutup oleh top capnya, sehingga sulit untuk melihat liquid di dalamnya.

Di sini saya lebih tertarik membahas dari sisi RBAnya. Karena, sebenernya inilah added value Vapefly dalam mempromosikan Jester.

Yang menarik disini adalah istilah Rebuildable “Dripping” Pod. Bagi saya, ini ga lebih dari sekedar Gimmick. Siapa yang akan nge-drip pada sebuah pod? So, cuma lelucon aja.

Selanjutnya adalah, menggunakan metode RDTA pada sebuah pod – yang ga dapat dipungkiri sering kita kantongi atau kita letakkan secara horizontal – sangat riskan, karena tidak semua user bisa wicking dengan baik.

Untuk airflow, desain cartridge yang menggunakan pre-build coil sudah ok, karena kita dapat mengatur airflow sesuai yang kita inginkan.

Tapi pada RBA cartridge justru dihilangkan walau tidak mempengaruhi flavor. Jadi, untuk MTL misalnya, lebih cenderung ke loose MTL walau tidak terlalu plong.

Masih ada satu lagi yang aneh. Entah ini luput dari pemikiran mereka atau tidak. Vapefly tidak menyertakan tool untuk membuka screw bagian bawah RBA cartridge.

Padahal ini, menurut saya, cukup penting untuk memudahkan saat kita ingin mencuci cartridge ketika ingin mengganti liquid.

Performa

Performa Jester dalam hal flavor harus saya akui sangat memuaskan di semua setting.

Hanya saja permasalahannya adalah kondensasi yang kadang mengganggu.

Ini bisa dipahami karena jarak chamber dan mouthpiece sangat dekat. Liquid terakumulasi pada dinding chamber/chimney sehingga mudah atau cepat naik.

Selain itu, jika kita buka top cap, akan kita temui liquid menempel pada dinding luar cartridge seolah leaking. Yang ini kadang sangat mengganggu.

Jester dibekali dengan kapasitas baterai yang cukup besar, 1000mah. Tapi, sayangnya, tidak ada baterai indikator.

Karena Jester menggunakan direct output, kita bisa mengetahui baterai akan habis jika dirasakan adanya penurunan flavor.

Kesimpulan

AIO device dengan fitur RBA Coil mungkin banyak ditunggu oleh para vapers di luar sana.

Mereka bisa bebas menggunakan setting yang disukai dan sekaligus dapat lebih irit karena tidak harus membeli pre-build coil berkali-kali.

Saya pribadi kurang merekomendasikan Jester sebagai pilihan. Tapi, jika anda tidak bermasalah dengan semua kekurangan yang ada, silahkan untuk dicoba. Toh ini hanya opini saya pribadi.

Flavor yang dihasilkan sangat memuaskan dan selama pemakaian, saya belum pernah mengalami leaking.

Cons

  • Driptip kurang nyaman
  • Tidak ada baterai indikator
  • Tidak bisa melihat nilai ohm
  • Kondensasi
  • Tidak ada AF kontrol pada RBA cartridge
  • RBA cartridge sulit dicuci
  • Liquid kadang menempel pada dinding cartridge (RBA)
  • Sulit melihat liquid karena warna cartridge cukup gelap.

Pros

  • Flavor
  • Tidak ada leaking
  • Kapasitas baterai
  • Building coil sangat mudah
  • Top fill

6 thoughts on “Vapefly Jester, A Rebuildable Dripper Pod?”

  1. Hadeh knp ini jester ane semalem di fairing masih mau,bgtu lowbet di chargr,pas mo di fairing pagi ini jesternya gak mau,kenapaaaaaaaa kau jester

  2. Om mau tanya ini aku beli baru dan udah aku isi liquid nya tapi kok gak bisa keluar asap yah? Dan pod nya ketika dicoba kayak gak ada reaksinya alias diem² bae, minta tolong dong min pencerahannya, terimakasih

Tinggalkan Balasan